Vani dan Ruzhael (1)

Aku tak pernah mengira, bahwa suatu saat, aku akan mencintainya…

Aku melihatnya memandang ke arahku. Gadis berwajah datar itu. Apakah ia memperhatikan aku? Atau memang ia melihat langit? Tidak. Ia melihat sesuatu yang detail, dan itu aku. Aku, yang seharusnya tak dapat dilihat olehnya. Tapi, benarkah? Aku hidup lebih dari 470 abad, tapi aku tak pernah benar-benar percaya ada manusia bisa melihat bangsaku.

“Turun kau.”

Aku terpekur. Ia benar-benar melihatku. Ia benar-benar melihat diriku, tepatnya melihat tanganku yang sedari tadi terluka, namun kuabaikan. Aku menoleh, beranjak berdiri di atas batu karang memandangnya yang berada di atas tanah, lalu mendaratkan tubuhku persis di depannya. Aku hanya membisu saat ia berjalan mendekat ke arahku, meski hatiku bertanya-tanya.

“Jawab aku. Kau ini, lawan atau kawan?”

Aku merasakan rahangku mengeras. Kurang ajar juga wanita ini tiba-tiba bertanya dengan nada yang cukup tak sopan pada seorang pria yang setiap saat bisa membunuhnya. Ia menggapai bagian bahu kananku yang terluka –dan ia menyentuhku! Aku, yang tercipta dari api! Yang tertutup oleh mihrab-Nya dan tak bisa terlihat kini tampak jelas di matanya, melihat lukaku, bahkan menyentuh tubuhku. Apakah ini hanya ilusiku atau memang ia manusia sakti seperti manusia-manusia berkekuatan yang bisa mengendalikan beberapa makhluk dari bangsaku?

“Aku tak paham apa maksudmu,” ucapku dingin.

Tak disangka, gadis itu malah menyembuhkan lukaku. Aku dapat merasakan auranya yang hangat menghentikan luka di tanganku. Seketika, lukaku berangsur-angsur membaik.

Aku hanya bisa tercenung saat ia selesai melakukannya.

“Gadis gila itu berbicara pada bayangan lagi seperti kemarin.”

“Tampaknya ia memang harus masuk rumah sakit jiwa.”

“Apa yang dia lakukan?”

Omongan itu terdengar menyengat di telingaku. Jika pandangan mereka tertuju pada gadis di depanku saat mereka berbicara demikian, maka jelas, gadis inilah yang mereka bicarakan. Dan, gadis ini dianggap gila. Ah, aku paham. Ia pasti dianggap gila, karena tak seharusnya ia bisa melihat dan berinteraksi denganku yang jelas-jelas tak bisa dilihat oleh manusia kebanyakan. Tapi tidak, ia tidak gila! Aku hanya yakin ia hanya berkemampuan lebih.

Sebuah aura kuat tiba-tiba menerpa kulitku. Terdengar suara teriakan dan lolongan kesakitan dari seluruh orang disekitar kami –di pantai yang sepi itu. Mereka tiba-tiba tercekik dan terpental jauh membentur karang-karang serta pepohonan di sekitar. Sekitar 12 orang berada di sana, meregang nyawa sejenak, kemudian menggelepar dan mati.

Aku hanya memandang jasad itu sejenak, sebelum tersadar, bahwa aura kuat gadis didepanku inilah yang mengakibatkan mereka mati seketika.

“K-kenapa kau membunuh mereka?”

“Aku hanya malas mendengar omongan menyebalkan mereka saat aku sedang berusaha menolong seseorang,” ucapnya pendek, “jadi, katakan padaku. Kau ini kawan atau lawan?”

Aku terdiam. Kenapa pertanyaan itu lagi? Belum selesai aku memikirkan tentang kemampuannya, aku kembali dipusingkan dengan pertanyaan ini. Apa maksudnya? Kalau kulihat dari sikapnya, ia tampaknya sangat terbiasa beriteraksi dengan kaum dari bangsaku, dan melihat dari kewaspadaannya, aku tahu, gadis ini adalah gadis yang biasa mendapat perlakuan tidak mengenakan  dari bangsaku, mungkin serangan? Apakah itu imbas karena kemampuannya?

“Entahlah. Aku hanya seorang pengelana.”

“Baik, kalau begitu kau kuanggap kawan,” ucapnya singkat, kemudian berlalu setelah melihat luka ditanganku benar-benar sembuh.

Pertemuan itu singkat, tapi begitu mengesankan untukku.

Fanabe_beach_sunset

Beberapa hari kemudian, aku masih menunggu di tempat yang sama, di dekat karang besar yang tegak kokoh di pinggir pantai. Berharap ia kembali. Diam-diam menunggunya. Entah apa yang mendorongku untuk melakukan itu, namun yang jelas, aku tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Sampai empat hari aku menunggu, ia tampak berjalan di pinggir pantai, tak jauh dari keberadaanku sembari memandang laut yang biru. Sesaat kulihat ia mengambil nafas panjang dan tiba-tiba ia menoleh ke arahku.

“Kenapa kau masih disitu?”

“Eh, aku…”

Gadis itu berjalan mendekat. Wajahnya yang datar terpampang seperti biasa. Matanya yang biasanya hampa, memandangku tajam.

“Kau tak punya tempat untuk dituju?”

Aku diam.

Bukannya aku tak punya tempat untuk dituju, nona, hanya saja aku memang menunggumu.

Kupandang wajahnya lekat-lekat dengan kedua iris mataku yang berbeda dengan ekspresi yang sama. Ia manis juga, kupikir.

“Aku memang seorang pengelana jadi aku tak punya tempat pasti untuk dituju…”

“Oh, kalau kau mau, kau boleh ikut denganku. Tapi, itu terserah padamu.”

Aku terdiam sejenak, “maksudmu, aku ikut denganmu?”

“Ya. Banyak orang sepertimu yang ikut denganku, tapi aku tak pernah memaksa. Kebetulan besok aku pulang, jadi kalau kau mau, kau boleh ikut denganku.”

“Apa ini suatu kewajiban atas hutang budiku karena kau menyelamatkanku beberapa hari lalu?”

“Tidak, ini tawaran. Sudah kubilang kan, ‘itu kalau kau mau’,” ucapnya memberi penakanan pada kalimat akhir.

Aku tertegun. Seumur hidup, aku baru tahu ada seorang manusia yang memperlakukan orang di bangsaku dengan manusiawi, seperti bagaimana manusia baik memperlakukan sesamanya. Ia tak meminta aku membalas kebaikannya, bahkan kini menawarkanku untuk tinggal bersamanya tanpa paksaan, bukan imbal balik atas jasanya karena telah mengobati lukaku. Bangsaku yang biasanya diperbudak oleh manusia, didepan gadis ini, diperlakukan sebagai seorang teman.

Kurasa aku tak mungkin menolak kebaikan ini.

“Baik, kukira aku akan ikut.”

“Baiklah, aku akan pulang ke hotel sekarang, ayo…” ia mengajakku dengan tubuhnya yang berbalik dan aku berjalan di sebelahnya. Suara yang dihasilkan deburan ombak saat menghempas karang dan angin yang berhembus kencang saat itu mengisi keheningan langkah kami saat bersama. Ia tampak menyusuri bibir pantai dengan wajah kosongnya, seolah memikirkan sesuatu, entah apa. Aku ingin mengajaknya bicara, tapi darimana aku harus memulai? Aku saja bahkan tak tahu namanya.

“Emm….”

“Hm?”

“Bagaimana aku harus memanggilmu?”

Ia tersenyum tipis meski wajahnya tak tertuju padaku, “panggil aku Vani.”

“Baiklah,” aku mengangguk kecil. Suasana kembali terasa aneh.

“Dan kau? Siapa namamu?”

Aku terdiam sejenak. Entah  mengapa  selintas masa lalu kembali merasuki otakku dan berputar cepat dalam benak. Aku, seorang pewaris tahta yang kabur dari tanggung jawab, melarikan diri sesaat sebelum pernikahanku, kemudian kabur berkelana dan terdampar di berbagai tempat tanpa siapapun yang menanyakan namaku, kini akhirnya memiliki sebuah kesempatan untuk berteman dengan seseorang. Seseorang yang menanyakan namaku tanpa kecanggungan, selayaknya seorang pria biasa di duniaku yang bertemu dengan orang baru dan menanyakan nama orang di sampingnya tanpa mengkhawatirkan sebuah status keluarga, harga diri, tahta, dan kekayaan. Sebuah ikatan yang sedari dulu kuinginkan, dan kini berhasil kudapatkan dari seorang gadis yang berbeda bangsa dariku.

“Panggil saja aku Ruzhael.”

Dan hari itu, adalah hari dimana aku mengenalnya. Seorang teman dari bangsa yang berbeda. Bangsa manusia.

Vladd Falling In Love (2)

Characters and story ‘Vladd Remote Control Boy’ © Hilman Hariwijaya

This plot story © Lazuardi

Illustration © Lazuardi

Bab Sebelumnya di sini.


Bab 2

Perasaan Khusus

Semenjak Flo jadi temen deket Vladd, Vladd semakin bersemangat datang ke sekolah. Biasanya Vladd nggak pernah ambil pusing soal sekolahnya, karena untuk otak jenius seukuran Vladd, materi di sekolah emang nggak masuk hitungan. Tapi sekarang, Vladd kembali mengasah kemampuannya dibidang hitungan, maupun dalam ilmu komputernya. Hal itu sengaja dia lakuin supaya dia bisa punya bahan obrolan dengan Flo, anak baru yang menarik perhatiannya. Caper lah, istilahnya. Soalnya, selain komputer, usut punya usut ternyata Flo juga jago dibidang pelajaran, terutama ilmu pasti. Saking pinternya, meski baru dua bulan di sekolah Vladd, gadis itu udah jadi partner Vladd untuk mewakili olimpiade Matematika ke Jerman akhir tahun nanti. Jelas aja Vladd ngerasa nggak mau kalah. Tapi diem-diem, dia jadi tambah suka sama Flo.

“Flo, kamu aktif apa aja di internet?” tanya Vladd suatu ketika.

“Banyak. Selain blogging, saya juga web designer. Terus saya juga ngebuat beberapa game untuk hape. Memangnya kenapa?”

Mata Vladd berbinar. Game? Web designer? Rasanya Vladd bener-bener seneng bisa nemuin orang kayak Flo.

“Nggak, nggak papa. Saya cuma penasaran aja. Soalnya kalau saya perhatiin, kesibukan kamu di depan laptop selama istirahat banyak juga,” ucap Vladd yang berusaha menyembunyikan raut kekagumannya.

“Ooh,” sahut Flo pendek. “Kamu sendiri?”

“Hm…” Vladd menerawang. “Apa ya? Blogging, bikin game juga, dan hacking sesekali…”

“Nah looo!” Flo menudingnya dengan tatapan jahil diikuti tawa kecil. “Ketauan nih nakalnya!”

Vladd cuma bisa garuk-garuk kepala menahan malu, tersipu.

Bagi Vladd, Flo adalah temen yang asik, karena hanya dengan dia Vladd bisa banyak berdiskusi tentang hal-hal yang mungkin dianggap aneh atau nggak dipahami bagi kebanyakan orang. Selain otaknya yang encer dan kemampuannya dibidang komputer juga hebat, Flo juga orang yang paling santai dan nggak sombong. Meski agak misterius karena orangnya tidak mau terbuka soal pribadi dan gayanya yang agak mencolok (naik motor matic di sekolah Vladd termasuk kategori mencolok, soalnya rata-rata mereka kalau nggak pake bus sekolah, ya pake mobil mewah), Flo bisa bergaul dengan mudah, walaupun semuanya hanya ‘sebatas kenal’.

Ada satu yang menarik perhatian Vladd dari Flo. Biasanya di kalangan high class, banyak para siswa yang seolah merasa dirinya paling hebat karena ngerasa kaya walaupun itu duit milik bokap nyokapnya. Atau paling nggak, meskipun mereka nggak nyombong, pasti ada aja satu atau dua atribut yang menunjukkan kalau mereka adalah kalangan berada, entah dari gaya bicara, maupun sesuatu yang mereka pamerkan, dan Vladd nggak suka hal itu.

Dan Flo adalah orang yang nggak pernah bersikap seperti itu.

Keberadaan Flo menimbulkan berbagai respon di antara teman-teman Vladd. Contohnya saja, Yudiantara. Akibat terpilihnya Flo jadi kandidat kedua karena dianggap sama jeniusnya dengan Vladd, jelas-jelas Yudiantara cemburu. Dia kesel, murid baru itu kini sudah menggeser posisinya karena dia ngerasa lebih berhak untuk ngikutin olimpiade itu. Kejengkelannya semakin menumpuk, mengingat  permasalahannya dengan Vladd yang dia anggap saingan aja belum selesai, sekarang udah ada saingan lain.

Marigold lain lagi. Diem-diem dia jengkel, karena anak cowok yang biasanya bisa diisengin kini punya temen deket. Dia ngerasa, Flo mengambil Vladd, apalagi melihat Flo tampak dekat dengan Vladd karena mereka cocok, dan itu bikin Marigold sebel beneran. Dia nggak abis pikir, kenapa Vladd lebih milih temenan sama cewek kuper yang nggak ada cantik-cantiknya itu ketimbang dia? Marigold nggak tahu, selera Vladd bukan cewek yang cantik, tapi cewek yang nyambung!

James yang ngeliat peluang ini jelas seneng. Playboy cap kelinci yang masih pengen jalan sama Marigold itu berkali-kali berusaha mengambil hati Marigold, bahkan pada saat jam pelajaran kimia.

“Mar, malem ini jalan yuk? Kita mengenang masa-masa indah kita dulu…”

“Masa indah apa? Orang pertama kali kencan sama kamu aja saya malah disuruh dorong motor karena harleymu ngadat! Balik-balik langsung nyari tukang pijet nih saya!”

Vladd terkikik mendengarnya. Niatnya mau romantis malah ditolak mentah-mentah. Flo yang kebetulan satu kelompok dengan Nanda-Nandi ikut-ikutan senyam-senyum ngedengernya, termasuk Adrian dan Muhardito.

Ngeliat orang-orang termasuk Vladd senyum, James gerah juga, ngerasa terhina. Anehnya, dia malah melampiaskan kekesalannya pada Vladd. Ia memukul kepala Vladd pelan.

“Ngapain kamu ikut-ikutan senyum? Suka ya kalo saya dihina Marigold? Kamu ngajak ribut sama saya, heh?”

Vladd mengelus kepalanya yang agak sakit. Ngajak ribut? Yang ada juga James yang selalu cari ribut duluan. Dari abad Vladd masuk SMA sampe sekarang kelas XI (kelas 2 SMA) yang selalu micu ribut duluan ya James juga.

“Lho, perasaan yang lain juga ikut ketawa deh…bukan saya aja,” Vladd tiba-tiba memandang Nanda-Nandi, Muhardito dan Adrian yang memang tak jauh darinya.

“Alah, tetep aja, ketawa kamu yang paling keras. Kenapa, ngerasa udah berani sekarang? Dasar cupu!”

“Iya tuh, badan kurus kayak tiang listrik doang berani-beraninya ngegaet cewek orang,” Perry ikut bicara. Wajarlah ia bicara, mengingat James juga salah satu teman satu kubunya selain Yudiantara, sama-sama pembenci Vladd.

Vladd menghela nafas bosan. Ia sudah biasa dihina James. Yang justru panas malah Marigold.

“Hah, caper? Ngegaet? Siapa yang berniat ngegaet saya? Nggak ada tuh!” Marigold menggeleng kuat-kuat.

“Siapa lagi kalau bukan Vladd!” ucap James gemas.

“Vladd ngegaet saya?” Marigold tertawa ngakak, kemudian menggeleng, “Maaf ya James, Vladd nggak pernah berniat ngerebut saya dari kamu, tapi emang sayanya aja yang ngedeketin dia!”

James berasa kaget kayak disamber geledek. Baik Perry maupun Yudiantara ikut-ikutan kaget ngedengernya.

“Tapi kenapa Mar, kenapa? Kenapa kamu lebih milih deket-deket sama kutu kayak dia dibanding saya?” tanya James ekspresif, memegang dadanya seperti ia sedang melakukan casting untuk adegan sinteron remaja.

“Duh James, sejak kapan sih kamu jadi ekspresif gini? Jujur, males banget liatnya,” Marigold mengangkat bahu tak peduli dengan tatap ilfeel.

James menatap Marigold dengan tatapan nanar.

Kalian pasti nanya-nanya, kemana guru yang dibayar ribuan dolar dan berkewajiban membuat mereka kembali tertib? Ada, tenang aja. Guru bernama Pak Bangke (nama aslinya sih Bambang Eko, dasar aja anak-anak pada jail menyingkat namanya jadi Bangke) itu di tempatnya, tapi dalam keadaan tertidur pulas! Mungkin semalem dia asik nonton bola atau main PS4 terbarunya, nggak tahu deh, kalian tanya aja sendiri.

“Eh, eh…ini masih jam pelajaran…nggak enak sama Pak Bambang…” ucap Flo berusaha melerai. Ia merasa tak enak di tengah jam pelajaran para siswa malah sibuk bertengkar mulut seperti ini dan ia merasa harus menenangkan mereka.

“Alaaah, kamu nggak usah ikut-ikutan ngebelain Vladd! Kamu juga sebelas dua belas sama Vladd. Sama-sama kutu!” Yudiantara gerah, ikut bicara juga, membela James. Sedari tadi dia memang panas ingin buka mulut untuk menjatuhkan Vladd (karena ia memang selalu sirik sama otaknya Vladd tapi benci mengakui kejeniusannya), namun baru sekarang bisa melakukannya.

Flo ternganga tak percaya mendengar hinaan seperti itu. Jelas dia berang. Kutu? Dia disamain dengan kutu? Yudiantara nggak tahu, kemarahan Flo benar-benar udah sampe ubun-ubun. Tabung reaksi yang yang dipegang Flo pecah akibat kepalan tangan Flo dan tangannya berdarah karena menggenggam pecahan beling di tangannya. Bianca dan Su Yin terpekik kaget melihat darah yang menetes ke lantai. Mereka memandangi kejadian mengerikan itu dengan tatapan takut-takut.

“Maksud kamu apa nyamain saya dan Vladd dengan kutu?”

“Ya lo itu! Kutu! Pengganggu! Risih gue liat kalian berdua!”

Vladd ngerasa nggak enak ngeliat Flo ribut-ribut apalagi saat namanya ikut-ikutan disebut. Ia ingin melerai, tapi bingung. Dikeluarkannya remote control sakti miliknya, memijit tombol peace ke arah mereka. Sayang, nggak berhasil. Pas dilihat indikator baterainya, Vladd menepuk jidatnya sendiri. Ia baru ingat, ternyata remotenya belum di-charge sejak kemarin pagi! Jelas aja remote itu low-batt.

Sial, batin Vladd. Kenapa pas dalam keadaan genting selaluuuu aja kayak gini?

Kepanikannya bertambah saat Flo mencengkram kerah Yudiantara.

“Kalau lo mau ribut, kita keluar sekarang,” ancam Flo tajam, membuat Vladd tak menyangka Flo akan melakukan hal seberani itu.

“Wets, wets, tenang, bro! Santai, santai…” Yudiantara merasa jiper ngeliat keseriuan Flo untuk mengajaknya berkelahi.

“Eh lo nggak usah sok jagoan ye? Lepasin!” Perry berusaha menarik tangan yang mencengkram kerah Yudiantara, tapi kalah tenaga sama Flo.

“Lo yang nggak usah jagoan! Udah tau temen lo salah, lo belain juga!” tangan kanan Flo menuding Perry diikuti tatapannya yang menusuk. “Atau lo mau gue ajak ke lapangan juga buat berantem, hah?”

Perry melongo. Hati kecilnya kaget, karena seumur hidup, baru kali ini di diancem sama cewek. Diem-diem dia salut juga sama keberanian murid baru ini.

Dan Vladd diikuti murid lainnya hanya bisa terbengong-bengong melihat kejadian itu.

“Kalo lo emang mau, setelah kita berantem, besok lo pake rok sama BH ke sekolah…”

Vladd menelan ludah, bergidik sendiri membayangkan Perry dan Yudiantara harus pake rok. Hih, bisa rusak matanya liat pemandangan najis kayak gitu.

“Oke, Flo, tenang-tenang. Lepasin Yudiantara. Kita minta maaf kalo perkataan kita nyinggung lo…” James yang sadar bahwa ancaman Flo itu serius menahan Flo melakukan hal yang lebih dari itu, menahan tangan Flo yang uratn-uratnya mulai terlihat kencang.

BRAKH!

Terdengar tubuh Yudiantara terhantam keras ke dinding diikuti suara Yudiantara yang mengaduh kesakitan. James dan Perry sontak membantu Yudiantara berdiri karena tubuhnya jatuh terduduk saking sakitnya.

“Gue bukan orang yang gampang maafin orang kalau boleh jujur…” jawab Flo dingin sembari berbalik.

Saat ia kembali ke mejanya, Bianca memandangnya khawatir.

“Flo, tanganmu harus diobatin dulu, robek kena beling tuh…”

“Saya nggak apa-apa.”

Vladd yang menyadari bahwa situasi sudah normal berjalan mendekati Flo. Gadis berambut pendek itu tampak mengabaikan luka di tangannya.

“Flo, kubawa kamu ke UKS.”

“Nggak usah Vladd. Ngerepotin,” Flo menggeleng tenang.

“Nggak bisa! Pokoknya kamu harus diobatin dulu!” Vladd menarik paksa tangan kanan Flo, membawanya ke UKS. Bianca dan Su Yin diam-diam menahan senyum saat mereka pergi.

“Percuma kalo kamu kasih betadin doang. Lukanya harus dijait,” ucap Flo kalem.

“Mangkanya saya ajak kesini!”

Vladd segera saja memanggil dokter sekolah. Dokter yang memang bekerja di bagian kesehatan sekolah itu segera saja menjahit luka sayatan di telapak tangan Flo.

“Lain kali hati-hati,” ucap dokter tersebut sembari membersihkan peralatannya.

“Terima kasih,” Vladd dan Flo berucap secara bersamaan.

Menjelang pulang sekolah, Vladd masih juga mengkhawatirkan keadaan Flo. Flo yang akan membeli makan siang dan membungkus bekal untuk makan malam dibuntuti Vladd sampai kantin, nanya ini itu.

“Flo, kamu nggak papa tuh kalau pulang-pulang tanganmu luka-luka begitu? Nggak dimarain ortu?”

“Siapa yang mau peduli?” sahut Flo cuek.

“Lho, ortumu dong!”

Flo mengibaskan tangannya. “Santai aja keleus. Ini udah biasa. Dulu bisa lebih parah dari ini.”

“Lebih parah?”

“Ah, panjang ceritanya!” Flo senyum, tapi kemudian teringat sesuatu. “Oya Vladd…”

“Ya?”

“Ngomong-ngomong, apa mereka sering ngelakuin itu ke kamu?”

“Maksud kamu?”

“Yudiantara, James dan Perry. Mereka suka ngebully kamu gitu ya?”

Vladd tersenyum masam. “Yah gitu deh. Biarin ajalah.”

“Kenapa nggak ngelawan?”

“Gimana caranya? Lagian juga saya males.”

“Terus itu, saya juga mau tanya, memangnya apa sih yang terjadi antara kamu, James dan Marigold? Saya yakin ada something nih sebelumnya.”

“Oh itu…” Vladd pun menceritakan semuanya. Tentang Marigold yang tiba-tiba jadi lengket dengan Vladd tanpa alasan, dan semenjak itu pulalah James mulai bersikap tak enak padanya karena dianggap mengambil Marigold darinya. Juga penyebab kenapa James, Perry dan Yudiantara jadi saling mendukung, dan ia jelaskan bahwa mereka semata-mata bersatu, karena sama-sama membenci Vladd. Termasuk semua hal yang pernah mereka lakukan pada Vladd demi membalas dendam rasa sakit hati mereka.

“Dan kamu nggak mau ngelawan mereka setelah apa yang mereka lakuin ke kamu?” tanya Flo kaget dengan tatapan tak percaya setelah mendengar semua cerita Vladd.

“Kan udah saya bilang, bisa apa saya?”

“Kalo itu terjadi sama saya, tu orang tiga udah balik patah tulang semua kali,” ucap Flo menahan amarah.

Vladd bengong, tiba-tiba ngerasa serem sendiri. Sadis amat ni cewek. Sebenernya ni anak siapa sih? Kok nggak ada takut-takutnya sama cowok? Apalagi pas tadi dia ngeliat Flo berhadapan sama Perry yang punya badan gede, dia cukup khawatir juga, tapi gadis itu malah nggak takut sama sekali!

Entah kenapa, perasaan kagum Vladd sama Flo semakin bertambah.

“Heran saya…” ucap Flo tiba-tiba sembari memesan sebuah nasi goreng dan kwe tiaw kuah dua porsi. “Kok bisa-bisanya ya kamu sabar nyikapin sikap mereka yang kelewatan?”

Vladd duduk di depan Flo, lalu mengangkat bahu tiba-tiba. “Saya pikir, diem lebih baik. Toh, sampai sekarang saya masih idup aja kan?”

“Nggak. Ada saatnya kamu melawan. Kamu nggak boleh terus-terusan diem saat mereka ngebully kamu kayak gitu.”

“Udahlah Flo… dendam itu nggak baik. Toh, kalau mereka bertingkah kelewatan dan saya ngadu sama papi saya soal mereka, semua bisa teratasi.”

“Heh, iya ya…” Flo tersenyum, yang tampaknya lebih terlihat seperti sebuah senyuman untuk dirinya sendiri.

Sesaat keduanya diem. Hening. Yang kedengeran cuma suara kesibukan di kantin dan percakapan para siswa yang belum pada pulang atau masih nongkrong di kantin karena ada kegiatan eskul. Saat pesanan Flo datang, Vladd melongo melihat pesanan Flo yang jumlahnya ada tiga bungkus-empat bungkus.

“Ngomong-ngomong, ngapain kamu beli makan banyak-banyak?” tanya Vladd lagi. “Buat kamu?”

“Ah nggak. Ini titipan. Kamu sendiri ngapain ke kantin terus nggak beli apa-apa?”

Vladd ngerasa ditohok. Pipinya kerasa panas lagi. Jelaslah dia nggak beli apa-apa, soalnya memang tadinya juga Vladd nggak punya niatan ke kantin kalau nggak karena ngekorin Flo. Vladd jadi malu sendiri.

“Eh, ayo sini saya bawain. Mau ke parkiran kan?” tanya Vladd berusaha mengalihkan perhatian sembari mengambil bungkusan plastik dari tangan Flo. Flo Cuma mengangguk, nyengir ngeliat Vladd yang kini telah berjalan lebih dulu di depannya.

ilus 2 copy

Sesaat setelah sampai di parkiran, Vladd mengembalikan bungkusan itu pada Flo

“Yaudah Vladd, saya pulang dulu ya…” ucap Flo sambil menerima bungkusan plastik dari Vladd.

“Lha, emang kamu bisa nyetir motor dengan tangan begitu? Kenapa nggak pake bus sekolah aja?!” Vladd memberi alternatif. Sejujurnya dia memang khawatir banget sama Flo.

I’m fine, Vladdvanio. See ya later,” Flo memakai helmnya, dan seperti tak terganggu dengan luka jahitan di tangannya, ia mengendarai motornya, meninggalkan Vladd yang termenung memandang kepergiannya.

 

Semenjak kejadian itu Vladd jadi makin penasaran sama Flo. Gadis aneh yang baru dikenalnya selama sebulan itu memang misterius di mata Vladd. Anaknya nggak keliatan hidup ngejet-set walau keliatannya orang berada. Terus, nggak seperti cewek kaya pada umumnya yang cenderung manja, Flo emang mandiri, kelewat mandiri malah. Beberapa kali Vladd ngeliat Flo ngerjain piket seorang diri untuk geser-geser meja atau barang-barang berat. Dia nggak pernah ketergantungan sama cowok, walaupun kerjaan yang dilakuinnya emang porsi cowok. Pokoknya beda dari cewek gedongan umumnya deh. Ditambah lagi sama sikap beraninya terhadap cowok! Vladd yakin, gadis itu pasti punya bela diri atau ilmu tenaga dalem yang luar biasa mangkanya dia pede ngadepin cowok, bahkan termasuk Perry yang ia takuti!

“I, kamu bisa bantuin saya nggak?” tanya Vladd di telpon saat malam hari, menelpon Sapi’i, sahabat baiknya.

“Bantuin apa Vladd? Selama saya bisa sih, saya bantu!” sahut Sapi’i dari seberang.

“Saya mau nyari alamat temen saya, tapi kamu kan tahu saya nggak hafal daerah-daerah di Jakarta. Entar temenin saya ya?”

“Siap deh. Kapan?”

“Besok aja gimana? Kebetulan besok tanggal merah.”

“Oke. Jam berapa?”

“Nanti saya kabarin lagi deh lewat SMS.”

“Siplah.”

Tut. Telpon dimatikan.

Vladd kini menatap salah satu layar komputernya yang jadi central kelima LED miliknya, mengetik sesuatu. Wajahnya terlihat serius dan sesekali terdengar suara ‘beep’ karena yang ia cari tak ditemukan. Beberapa kali ia mencoba, usahanya tetap gagal.

Alamat Flo nggak bisa ditemukan.

Wajah Vladd suntuk seketika. Semalaman ia berkutat di depan layar, tapi mencari alamat Flo nggak semudah dugaannya. Segala hal yang berkaitan dengan data pribadi Flo diproteksi ketat. Sampai jam menunjukkan pukul satu dini hari, Vladd akhirnya kelelahan, dan ia pun tertidur di mejanya.

Keesokan harinya, Sapi’i datang, mengetuk pintu Vladd. Vladd yang masih beler karena bangun siang ngeremote pintu supaya kebuka. Sapi’i duduk di pinggir ranjang Vladd.

“Gimana, jadi kita pergi?”

Vladd menggosok hidungnya, suntuk. “Gimana mau pergi, alamatnya aja nggak ketemu!”

“Hah, jadi kamu ngajak-ngajak saya pergi tapi kamunya sendiri nggak tahu mau kemana? Parah banget kamu Vladd!” Sapi’i menggeleng-geleng. “Emang kamu mau kemana sih?”

“Mau ke rumah temen,” sahut Vladd. “Tapi nggak tahu alamatnya. Pas dicari lewat internet, nggak dapet-dapet juga. Data pribadinya di-protect semua.”

“Hah, maksudnya protek itu apa?” tanya Sapi’i polos.

“Maksudnya dilindungi. Jadi pas mau dibuka, ada sesuatu yang mengunci dari dalam. Semaleman saya berusaha ngejebol barrier itu, tapi gagal.”

“Tunggu bentar. Sebenernya yang mau kamu datengin itu siapa sih?”

“Temen sekolah. Saya mau dateng ke rumahnya.”

“Lha kenapa nggak tanya langsung aja alamat rumahnya dimana? Pake acara nyari lewat internet segala!”

“Nggak semudah itu!” Vladd melempar Sapi’i pake bantal. “Dia nggak boleh tahu kalau saya nyari alamat dia!”

“Emangnya kenapa?”

“Soalnya saya mau diem-diem nyari tahu soal dia!”

“Ha, aneh!” Sapi’i mengerutkan kening. “Jadi ceritanya kamu mau main detektif-detektifan nih?! Emang siapa sih, kayaknya penting banget?”

“Kan tadi dah dibilangin, temen saya!”

“Iya, maksud saya cewek atau cowok?”

Vladd tertohok, dan segera saja menetralkan perasaannya. Wajah Flo yang melintas di benaknya bikin tubuhnya jantungnya main kendang lagi. “Ah pokoknya nggak usah tahu!”

Sapi’i melihat raut Vladd yang berubah. Pipi sobat kentelnya itu keliatan merona. Seketika Sapi’i tersenyum paham.

“Kayaknya saya tahu temen yang mau kamu cari ini…” Sapi’i tersenyum misterius. “Dia pasti cewek kan?”

Vladd kesedak ludahnya sendiri. Dia melotot natap Sapi’i. “Dari mana kamu tahu?”

“Ah, jadi bener tebakan saya? Astaga, Vladd! Siapa yang kamu taksir nih? Cerita-cerita sama sayaaa!”

Vladd merasa dicurangi. Kenapa tiba-tiba semua orang jadi peramal begini sih? Heran deh! Perasaan Vladd nggak pernah bilang dia suka seseorang, tapi kenapa Sapi’i, Papi Eraisuli bisa menebaknya dengan mudah? Vladd jadi dilema. Mau bilang ‘nggak’, tebakan Sapi’i telak banget. Mau bilang ‘iya’, takut Sapi’i ember dan keceplosan sama orblak.

Dia jadi serba salah.

“Vladd, ayo cerita!! Kasih tahu, siapa!”

“Sssh, udah ah, nggak usah berisik. Saya nggak perlu kasih tahu siapa, toh kamunya juga nggak kenal.”

“Tapi kan, nanti kalau kamu dapet alamatnya, kamu pasti nyari saya, soalnya kamu kan nggak tahu dengan pasti daerah Jakarta?” Sapi’i tersenyum penuh kemenangan. “Cerita sekarang atau nanti? Heeeee?”

Omongan Sapi’i bener juga. Suka atau nggak, suatu saat Sapi’i pasti tau juga. Akhirnya dia pasrah, terus ngebetulin posisi duduknya supaya bisa adep-adepan sama Sapi’i.

“Oke, saya kasih tau, tapi jangan bilang siapa-siapa ya?” suara Vladd terdengar memelan.

“Iya, beres lah itu Vladd. Siapa?”

“Bener nih?”

“Sumpah mateeeeeng dah Vladd. Nggak percayaan banget sih kamu sama saya?”

“Iya deh, iya. Yaudah,” Vladd menghela nafas panjang, kemudian buka mulut lagi, “namanya Flo. Dia anak baru di kelas saya.”

“Oooh. Kok kamu bisa suka sama dia? Orangnya cantik ya?”

Vladd tercenung sejenak, mengingat-ingat wajah Flo, menggeleng-geleng kecil, “sebenernya sih biasa aja. Tapi Flo cuma satu-satunya orang yang saya rasa paling nyambung dan cocok saya ajak ngobrol. Jadi saya ngerasa betah aja deket lama-lama sama dia.”

“Oooh…” Sapi’i mengangguk paham. “Terus kamu mau nembak dia?”

“Nembak itu apa?” tanya Vladd polos.

Sapi’i tepok jidat. Sejenius-jeniusnya Vladd, Vladd emang nol besar soal percintaan, tapi dia nggak nyangka aja, ternyata sobatnya sebego ini.

“Gini Vladd. Maksud saya ‘nembak’ itu, kamu nyatain perasaan, dan meminta jawaban dari dia. Kalau dia nerima pernyataan kamu, itu tandanya dia jadi pacar kamu, tapi kalau nggak, ya…itu tandanya kamu ditolak.”

“Emang harus banget ya pake nyatain perasaan cinta gitu?”

“Ya haruslah!”

“Masa’ sih? Bukannya hal yang nggak terdeskripsi kayak perasaan itu bagusnya tersampaikan lewat sikap ya? Bukan lewat pernyataan?” tanya Vladd, yang tiba-tiba teringat dengan salah satu artikel tentang percintaan yang pernah dibacanya lewat internet.

“Hadeuh…cewek itu ingin semuanya gamblang Vladd! Paham?!”

“Tunggu bentar. Kamu nasihatin saya kayak ahli begini, emang kamu pernah pacaran sama cewek?” tanya Vladd begini.

Sapi’i berasa ditohok. “Ya belum sih, tapi ka–.”

“Yaudah kalau gitu nggak usah belaga nasihatin saya, Pi’iiii!!!” sebuah sendal melayang diikuti suara Sapi’i yang ketawa sambil ngabur keluar kamar.

TBC


Ah, segini dulu. Entar lanjut lagi kalau ada waktu dan ingin. Sampai nanti.

Vladd Falling In Love (1)

Characters and story ‘Vladd Remote Control Boy’ © Hilman Hariwijaya

This plot story © Lazuardi

Illustration © Lazuardi


Bab 1

Anak Baru

Pagi ini Vladd kesiangan. Ia ketinggalan bus sekolah karena Bik Mar yang biasanya punya kewajiban membangunkannya di pagi hari lupa waktu karena keasikan berjoget dangdut saat masak. Alhasil, Vladd blingsatan saat berangkat sekolah dan lupa sarapan. Saat tahu ia ketinggalan bus, Mar dimarahi habis-habisan.

“Kamu ngapain aja sih Mar?! Gara-gara kamu telat bangunin saya ketinggalan bus sekolah nih!” ucap Vladd galak. Ia menyambar setangkup roti di meja makan dengan terburu-buru.

“Aduh, bibik minta maaf deh mas! Tadi bibi juga sibuk di dapur sambil dengerin lagu dangdut Mas. Lagian Mas Vladd juga biasanya kan pake alarm hape?”

Vladd mendengus sebel. Mau dangdut kek, mau keroncong kek, siapa peduli! Vladd keki berat.

“Tapi kan tetep aja kewajiban kamu untuk bangunin saya kalau saya telat!”

“Iya, sekali lagi saya minta maaf deh mas. Bibik cariin taksi ya? Johan kan nggak kerja selama Nyonya ke Jerman?” ucap Maryati dengan wajah bersalah.

“Alah, udah nggak usah deh, kelamaan! Saya nyupir sendiri aja!”

“Tapi mas, mas kan belum tujuh belas taun! Bisa disunat gaji saya kalau saya ngijinin mas Vladd nyupir ke sekolah!”

“Mangkanya jangan sampe mereka tau!” sergah Vladd cepat-cepat. Dengan dasi yang belum tersimpul rapi ia mengambil sebuah kunci mobil di kamar papi-maminya. Sementara itu Maryati yang masih merasa bersalah mengekori Vladd kemanapun ia pergi. Jadi kayak ekor.

“Tapi mas, ka–”

“Pokoknya tutup mulut!” ancamnya sembari menuding Maryati dengan galak. “Pokoknya kalau sekolah saya bermasalah karena keterlambatan ini, kamu tanggung jawab.”

“Aduh, mas, jangan dong! Kalo nyonya tahu dan gaji saya dipotong, saya mau bayar cicilan saya di Cinere pake apa?”

“Saya nggak peduli!” ketus Vladd sembari menekan tombol untuk membuka garasi otomatis rumahnya.

Sebenernya Maryati nggak bisa disalahin juga. Semalem, Vladd keasikan nonton film action Fast to Furious karena nggak ada kerjaan. Dasar anak nggak gaul, film yang sebenarnya udah terkenal cukup lama itu ia tonton dari sekuel satu sampai sekuel tujuh dalam satu malem (Vladd yah begini ini, kalau udah ngerasa satu film bagus, dan punya sekuel, biar sampe mata beraer dan ngantuk, dijabanin juga!) sehingga ia terlambat tidur. Ponsel yang biasanya melantunkan alarm untuk membangunkannya di pagi hari pun benar-benar mati total dan tak bisa me-recharge dirinya sendiri dengan tenaga surya (ponsel canggih milik Vladd bisa menyimpan dan men-charge dirinya sendiri saat ada sinar matahari) karena disimpan di bawah bantal. Kedua alasan itu adalah alasan sebenarnya kenapa Vladd telat sekolah. Tapi dasarnya aja Vladd nggak mau sadar diri, dia malah menumpahkan semua kesalahannya pada Mar.

Dengan langkah setengah berlari Vladd menuju mobil Bugatti papi Eraisuli yang masih kinclong. Saat ia membuka butterfly door mobil tersebut dan menyalakan mesinnya, Vladd geram karena mobil tersebut tak bisa menyala. Pas di cek, ternyata parameter tank mobil berharga milyaran rupiah itu menunjukkan angka nol, yang berarti tank-nya kosong!

“Papi nih gimana sih, mobil bagus-bagus tanknya kosong!” runtuknya kesal. Dengan terburu-buru ia keluar dari mobil dengan wajah emosi. Gimana nggak kesel, lagi buru-buru, ternyata mobil yang diandelin untuk membawa Vladd ke sekolah malah nggak ada bensinnya! Ia menendang keras ban mobil mahal tersebut, lalu ricuh sendiri, loncat-loncat memegangi kakinya yang kesakitan. Kualat sih!

Dipandangnya deretan mobil milik mami-papinya yang jumlahnya belasan di dalam garasi itu. Kalau ia cek satu-satu untuk nyari mobil yang masih ada bensinnya, kelamaan! Vladd melempar kunci mobilnya ke arah Maryati dan memandang kearah sepeda gunungnya. Kempes!

Hari ini bener-bener hari sial buat Vladd!

“Mar, saya pergi pake bis kota aja! Nggak akan keburu nih!”

“Tapi Mas–”

ilus1

Suara Maryati yang tadi akan keluar tiba-tiba menghilang karena Vladd segera menekan tombol mute pada remote ajaibnya ke arah Maryati. Remote yang bisa mengontrol manusia itu memang sudah cukup lama jadi barang sakti kesayangan Vladd, karena remote itu memang ia ciptakan sendiri. Maryati yang kaget suaranya hilang meski mulutnya masih bergerak-gerak panik sendiri, berusaha meneriaki Vladd yang berlari keluar rumah meski suaranya tak keluar. Vladd cengengesan melihat pemandangan tersebut, kemudian mempercepat larinya.

Di depan komplek perumahan Pondok Indah, Vladd terengah-engah kelelahan. Sekarang ia kebingungan sendiri melihat jam sudah menunjukkan pukul 07.15 pagi. Udah telah 20 menit!

“Wah, saya telat beneran…” keluh Vladd sembari membungkuk dengan menumpukan kedua tangannya di lutut, lemes. Siapa yang nggak lemes, pagi-pagi udah lari-lari dari rumah ke luar gerbang komplek yang jaraknya hampir 350 meter?

“Eh, kamu kenapa?” suara seorang perempuan mengagetkannya. Vladd mendongak, memandang seorang gadis yang mengenakan helm bieu tua dengan wajah njawani dan berkacamata menghentikan motornya tepat di dekat Vladd. Vladd nggak tahu, perempuan tersebut melihat nama sekolah di lengannya yang ternyata sama dengannya. “Kamu satu sekolahan sama saya juga ya? Ayok bareng!”

“Eh, beneran?” tanya Vladd nggak percaya, memandang lokasi sekolah di lengan baju gadis itu yang ternyata sama dengannya.

“Iya, udah ayok! Ntar telat!”

“Oh oke deh!” Vladd tersenyum girang, dan segera saja membonceng di belakang gadis itu. Pertolongan emang bisa dari mana aja!

 ***

Di sekolah, Vladd dan gadis yang sampe sekarang nggak dia kenal itu dipanggil ke ruang BK. Alasannya simpel; telat di hari Senin! Ibu Bertina selaku wali kelas Vladd juga ikut-ikutan mengomeli Vladd.

“Kamu itu tahu kan ini hari Senin? Sudah telat, penampilanmu kacau, seragam kamu acak-acakkan pula! Kamu ini niat sekolah nggak sih?” tanya Ibu Bertina dengan galak.

“Niat bu,” sahut Vladd sambil menunduk lesu. Ini nih yang memang dia takutin kalo terlambat ke sekolah. Diceramahi habis-habisan dengan topik yang itu-itu aja selama berjam-jam. Jujur, Vladd juga agak takut jika ia tidak bisa mengikuti jam pelajaran pertama, mengingat jam pertamanya adalah matematika, dan hari ini ulangan!

“Dan kamu Flo,” Ibu Bertina menuding gadis di sebelah Vladd, “kamu ini murid baru, kenapa di hari pertama saja sudah terlambat?”

“Motor saya tadi kempes bu,” jawab Flo pelan.

“Kamu kan bisa cek ban motor kamu pas hari Minggu sebelum berangkat ke sekolah! Segala sesuatunya harus dipersiapkan secara matang, apalagi hari Minggu kan libur! Harusnya kamu mengerti hal ini!”

“Iya bu, saya salah,” aku Flo dengan jujur.

Oh, jadi namanya Flo, batin Vladd sambil manggut-manggut kayak burung celepuk. Dia murid baru toh. Diam-diam Vladd berterima kasih juga pada murid baru yang baru dikenalnya hari ini. Perempuan byangternyata berambut panjangb dan berkucir itu memang terlihat tomboy (Vladd melihat dari caranya berjalan tadi), tapi kayaknya baik.

“Ya sudah, sekarang ibu maafkan kalian karena ini pertama kalinya kalian terlambat. Tapi untuk selanjutnya, ibu nggak akan segan-segan menghukum kalian,” ucap Ibu Bertina dengan tegas.

“Makasih Bu,” ucap Vladd dan Flo berbarengan, mengambil kedua tas mereka yang tersimpan di kursi ruangan, kemudian berjalan ke kelas.

Menuju kelas, Vladd iseng memperhatikan Flo yang sedang membaca daftar mata pelajarannya yang baru diambil dari ruang TU. Dia heran, ngeliat salah satu ekskul yang diambil gadis itu sama dengannya, programming. Soalnya jarang-jarang ada anak yang ambil ekskul itu. Jelas aja jarang, karena anak-anak disana udah jelas ngambil ekskul yang lebih asik daripada perbahasaan komputer yang njelimet itu. Mereka lebih milih ekskul kayak golf, berkuda, tenis, fotografi, bela diri dan segala atribut yang wajib dimiliki sekolah bertaraf internasional! Pokoknya seru deh! Maklum, espepenya juga ribuan dolar.

“Kamu ngambil eskul programming juga ya?”

“Iya lah, namanya juga udah hobi sehari-hari…” ucap Flo kalem dengan mata masih terarah pada kertas yang dipegangnya.

Vladd melebarkan matanya. Perbahasaan udah jadi hobi sehari-hari? Waw, jujur Vladd kagum. Jarang banget dia ngedenger perempuan hobi dengan komputer, perbahasaan, dan segala cyberworld yang biasa ia gandrungi. Soalnya selama dia kenal temen cewek, rata-rata mereka semua cewek yang nggak sealiran dengan Vladd. Contohnya kayak Marigold, si kembar Nanda dan Nandi, Su Yin, Bianca, tapi nggak ada yang punya selera kayak si Flo!

Vladd ngerasa dia bakalan cocok dengan temen cewek barunya ini.

“Misi Bu Jati, masih boleh masuk nggak bu?” izin Vladd setelah mengetuk pintu kelasnya.

Seluruh murid di kelas yang sedang mengerjalan ulangan itu menoleh ke arah meja. Yudiantara, Perry, dan James memandangnya tajam, sementara sisanya memandangnya dengan tatapan datar.

“Kalian nggak boleh masuk,” ucap Ibu Jati pelan sambil menguap. Guru yang tubuhnya mirip papan seluncur itu kembali fokus menatapi seisi ruangan dengan mengantuk.

Vladd tehenyak. Ini nih yang dia takutin! Beneran kejadian kan?!

Dari jauh, dilihatnya Yudiantara memberinya senyum sinis penuh kepuasan. Vladd Cuma bisa misuh-misuh dalem ati, berharap Bu Jati nggak keberatan ngasih susulan buat dia.

 ***

Menjelang jam pelajaran matematika berakhir, keduanya baru diizinkan masuk. Vladd baru tahu, ternyata mereka berdua juga sekelas. Orang-orang sekelas pada riuh merhatiin si murid baru, terutama Marigold dan si kembar Nanda-Nandi. Mereka sebel, soalnya semenjak mereka dateng, Vladd selalu keliatan ingin menempel dengan murid baru itu. Maklum, mereka bertiga sama-sama senang di dekat Vladd, terutama Marigold.

“Eh, Vladd! Kenapa sih dari tadi pagi sampe sekarang, kamu deket banget sama anak ini? Mar sampe dicuekin!” protes Marigold saat Vladd ikut-ikutan ngeliatin layar laptop Flo yang tampak hitam dengan sejumlah tulisan rumit. Kebetulan, Flo emang duduk nggak jauh dari kursi Vladd.

Vladd melongo. “Emangnya kenapa?”

“Ih, kamu itu nyebelin ya! Dasar cowok nggak peka!” Marigold misuh-misuh, kembali ke kursinya dengan mulut manyun.

Vladd mengerutkan kening, lalu memandang Flo.

“Menurut kamu, maksud dia dengan ‘nggak peka ‘ itu apa sih?” tanya Vladd polos.

“Mungkin kamu emang nggak peka dengan perasaannya?” sahut Flo kalem dengan mata masih tak beralih dari layar.

“Lho emang perasaan Marigold kenapa sih? Saya nggak ngerti.”

“Lho, mana saya tahu. Saya kan bukan Marigold,” sahut Flo lagi.

Vladd manyun sebel. Dia baru sadar, kayak gini ya rasanya dicuekin orang. Ternyata kebiasaannya untuk nyuekkin orang itu jelek, karena sekarang, dia ngerasain rasanya dicuekin. Eh, tapi sebelumnya, dia nggak pernah keki kok dicuekkin siapapun, terus kenapa sekarang dicuekkin Flo, dia malah makan ati?

“Oh ya, we never properly introducing each other,” ucap Flo sembari mengalihkan tubuhnya ke arah Vladd, mengulurkan tangan, “Saya Flo. Florent Nathania.”

Vladd kikuk.

“S-s-saya Vladd. Vladdimir Transylvanio. Panggil aja Vladdvanio,” katanya dengan pipi panas, menyambut uluran tangan Flo.

“Vladdvanio? Namamu lucu juga ya?” Flo terkekeh pelan. Saat itu Vladd bisa ngerasain, wajahnya makin panas.

Sesaat keduanya terdiam setelah keduanya selesai berjabat tangan.

“Ngomong-ngomong, perempuan tadi…” tiba-tiba Flo membuka mulut dengan suara pelan, “kayaknya dia suka kamu deh Vladd.”

“Hah, masa’ sih?” sahut Vladd tak percaya

“Ya, tebak-tebak buah manggis aja sih…” Flo tersenyum jahil, meski matanya kini kembali terpaku pada layar laptop. “Kalau salah ya…namanya juga nebak. Wajar kalau salah.”

“Hidih, ogah banget!” Vladd asli keki. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa risih ngebayangin cewek kayak Marigold jadi pacarnya. Dikit-dikit harus anter belanja, setiap minggu harus ke salon, waduh…repot!

“Eh, ngomong-ngomong, kamu ambil eskul programming kan? Bareng sama saya dong?” tanya Vladd.

“Masa’ sih? Wah syukur deh. Saya ada temennya kalau gitu. Saya kira saya bakal susah punya temen disini karena saya anak baru, tapi ternyata dugaan saya meleset…” Flo tertawa kecil, merasa cukup antusias karena senang, di hari pertamanya ia sudah punya teman. Nggak kebayang deh kalau dia harus jadi alien penyendiri di sekolah barunya. Apalagi, di sekolah bertaraf internasional itu, ia jelas-jelas merasa asing karena latar belakangnya yang berbeda dibanding orang tua anak-anak lainnya yang rata-rata kalangan borjuis. Sekolah ini memang terkenal sekolah anak-anak orang kaya.

Dan bagi Vladd sendiri, entah mengapa, tiba-tiba aja dia merasa bahwa dia telah menemukan teman yang cocok untuknya.

 ***

Vladd jadi sering senyum senyum sendiri akhir-akhir ini. Beberapa kali Maryati menemui Vladd sedang senyum-senyum di balkon sambil ngelamunin sesuatu. Narsakip dan Lukijo pun melihat anak majikan mereka yang abege itu seringkali bersikap aneh. Dan dalam sekejap saja, para orblak (orang belakang) sering kasak-kusuk sendiri.

“Mar, kamu sadar nggak sih, akhir-akhir ini Mas Vladd jadi aneh?”

“Iya, iya. Saya sering ngeliat Mas Vladd ngelamun seharian di balkon sambil senyum-senyum. Kamu juga liat Zul?”

“Iyalah! Terus tadi pas saya lewat kamar Mas Vladd saya juga denger suaranya Mas Vladd nyanyi-nyanyi lagu apa gitu…lagu anak muda, nggak tahu ah judulnya. Liriknya bahasa inggris gitu. Padahal jangankan nyanyi, ngomong aja jarang, ya kan?”

“Kira-kira kenapa ya?”

Bik Zuleha hanya menggeleng pelan.

Mereka wajar heran. Cowok cupu yang emang biasanya jarang keluar suara dan keluar rumah itu emang berubah 180 derajat. Gimana enggak? Hari ini Vladd riang banget, karena semenjak mengenal Flo, proyek game ‘Nino, Pangeran Tikus’-nya mengalami kemajuan. Dan tawaran itu tanpa sengaja ia dapat saat ia di kelas empat hari lalu.

“Vladd, kamu bilang, kamu pernah bikin game kan?”

“Iya pernah. Kenapa Flo?”

“Namanya ‘Nino sang Pangeran Tikus’ kan?”

Vladd terperangah kaget, nyengir. “Dari mana kamu tahu?”

“Aku pernah main. Dan game itu lucu! Aku suka Felicia-nya!”

“Kok suka Felicia? Kenapa nggak suka Nino aja?” ucap Vladd yang agak sedih karena Flo lebih milih Felicia (yang sebenernya terinspirasi dari kucing tetangga sebelah milik Sarah yang udah mati) ketimbang Nino (yang juga terinspirasi dari robot tikus kesayangannya yang merupakan hadiah Mami dari Jepang)

“Idih, aku kan suka kucing! Lagian mana ada orang ngefans sama tikus? Kalo hamster sih iya!” serga Flo sambil ketawa.

Mau nggak mau Vladd cengengesan. Bener juga sih.

“Tapi Vladd, kayaknya game kamu lebih seru kalau dibikin sepuluh sampai duapuluh level, dengan graphic yang lebih baik…”

“Iya sih, tapi belum bisa…”

“Kenapa?”

“Repot juga. Kalau kemampuan grafik sih emang udah saya pikirin, tapi sayang, saya kerja sendiri. Jadi terbatas banget.”

“Gimana kalau saya yang bantuin? Game kamu kan laku juga tuh di download di internet? Sayang kalau nggak di-upgrade!”

“Jadi kamu mau bantuin?” tanya Vladd dengan mata berbinar.

Flo mengangguk.

“Beneran nih?”

“Iya…beneran! Kamu kasih aja saya data mentahnya, ntar saya coba utak-utik.”

“Ah, thanks Floooo!!!”

Dan jadilah, sekarang game perdana Vladd itu dikerjakan oleh Flo dan dia. Vladd juga bakal nyantumin nama Flo di dalam gamenya kelak setelah game itu jadi.

Tapi, sebenernya perasaan senang Vladd bukan karena itu aja.

Vladd ngerasa tiap hari pertemanannya dengan Flo jadi makin akrab. Ke kantin bareng, ke perpus bareng, ngobrol juga bareng. Anehnya, hatinya selalu ketar-ketir saat Flo bersikap baik padanya, meskipun sikap baik itu memang sikap sewajarnya seorang teman. Tapi tetep aja, jantung Vladd selalu berpacu kencang, apalagi pas cewek itu mandang dia lembut pada suatu kesempatan atau tanpa sengaja pandangan mereka bersirobok. Duh, serasa panas dingin!

Meski Vladd sendiri nggak ngerti apa sebabnya, tapi yang jelas, dia jadi nggak bisa berhenti mikirin Flo.

Sayangnya, sikap anehnya yang mulai disadari oleh para orblak itu sampai juga ke telinga kedua orang tuanya. Dan saat mereka bertiga berkumpul untuk makan malam (jelas dengan pakaian yang serba rapi pokoknya), papi Eraisuli pun buka mulut.

“Vladd, papi denger, kata Mar sama yang lain, akhir-akhir ini kamu berubah. Berubah kenapa?”

“Maksud papi?” tanya Vladd sembari menyuap tumis asparagusnya.

“Mereka bilang, kamu sering senyum-senyum sendiri dan nyanyi nggak jelas. Sejak kapan kamu mulai suka nyanyi?”

Vladd ngerasa ditohok. Jadi para Mar cs pun udah nyadarin sikap Vladd yang aneh? Entah kenapa, pipi Vladd kerasa panas, malu. Bayangan Flo kembali melintas di otaknya, dan tanpa ia sadari, pipinya memerah.

“Lho, Vladd, kenapa pipi kamu jadi merah?” tanya Mami Smirnov yang mengerutkan dahi melihat anak satu-satunya merona. Sesaat mami papinya memandang Vladd dengan tatapan menaksir-naksir sebelum akhirnya Papi Eraisuli cekakakan.

“Ah, papi tahu niiiih!” Papi Eraisuli cengengesan. “Papi hafal sikap kayak gini!”

“Maksud papi?”

“Sekarang bilang, siapa, hm?” Papi Eraisuli memandang Vladd dengan tatapan menyelidik. “Anak mana yang lagi kamu taksir?”

“Hah, kamu serius Vladd?” Mami seolah akhirnya paham kemana arah obrolan Eraisuli, memandang Vladd dengan tatapan nggak percaya.

“Papi nih apa-apaan sih…” Vladd merasa pipinya semakin panas, meminum jus alpukatnya.

“Udahlah, jujur. Ngaku. Kamu lagi jatuh cinta sama seseorang kan?”

BURRRSH!

Vladd tersedak. Minuman yang tadi hampir ketelen nyemprot ke maminya yang tepat duduk di depannya. Jelas aja mami yang udah dandan cantik itu kini kotor dengan muncratan jus alpukat yang tadi diminum Vladd. Mami Smirnov yang udah dandan total karena malem ini mau ada pertemuan singkat dengan ibu-ibu sosialita di Kemang hanya bisa menggeram menahan marah.

“Maaf Mi, Vladd nggak sengaja!”

“Hhh…” Mami Smirnov menggeram jengkel, “kamu keterlaluan Vlaaaadddd!!!”

Meski demikian, kejadian konyol akibat tebakan Papi Eraisuli yang ngena ke hatinya itu diem-diem diresapin juga. Emang bener ya, kalau Vladd bersikap seperti itu, itu tandanya Vladd jatuh cinta?

Kalau memang iya, itu tandanya Flo adalah cinta pertama Vladd, dan ia senang, karena Vladd nggak salah jatuh cinta!

TBC


Hihi, bab pertama selesai. Entah kenapa, saya terlalu total pada cerita ini, sampe dibikin ilustrasi segala. Yah, ini cuma selfservice fan service aja buat para pecinta Vladd. Saya nggak ambil keuntungan apapun dalam cerita ini, jadi, selow….

Kenapa, Oom Hilman? :(

Saya tahu judulnya agak aneh, tapi memang itulah pertanyaan yang terlintas di kepala saya.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, siapa Oom Hilman yang saya maksud? Oh, tidak perlu bingung, khawatir, atau gundah, karena Oom Hilman yang saya maksud adalah Oom Hilman Hariwidjaya, penulis yang menulis serial novel Lupus, Olga!, Vladd, serta novel-novel lainnya. Beliau merupakan penulis yang memiliki gaya penulisan santai, melawak, tapi nggak garing apalagi maksa, namun tetap bisa menghibur. Meski novel-novel buatan beliau adalah terbitan tahun lama dimana saya saat itu saya mungkin masih berusia dua-tiga tahunan, tapi alhamdulillah saya masih bisa membaca karya-karya beliau baik minjem buku dari perpus, download ebook gratis, dan pinjem teman yang masih punya beberapa karyanya.

re_buku_picture_77000

 

re_buku_picture_77002

 

vladd-space-boy

Dari sekian buku beliau yang saya baca, saya suka sekali dengan tokoh Vladd dalam serial buku Vladd, anak jenius yang membuat remote control yang bisa mengendalikan manusia. Dan judul di atas adalah keresahan hati saya selama enam tahun sejak saya membaca serial Vladd yang cuma empat biji itu. Tepatnya adalah sebuah pertanyaan, kenapa Oom Hilman nggak bikin serial Vladd lebih panjang lagi? *nangis tersedu*

*elap ingus dan elap air mata, lanjut mengetik*

Kalian pasti nanya, kenapa saya selebay ini menginginkan serial buku tersebut agar lebih panjang lagi. Banyak alasan sih, tapi salah satunya adalah karena tokohnya! Tokoh Vladd adalah tokoh geek yang saya suka, dan cerita kesehariannya dengan teman-teman tengilnya membuat saya tertawa dan membayangkan; adakah sosok Vladd ada di dunia nyata? Saya memang cukup suka dengan tokoh nerd seperti itu (apalagi jika membayangkan tokoh seperti itu jatuh cinta, akan seperti apa?), dan terkait dengan cerita Oom Hilman ini, saya jadi terpikir, boleh nggak saya pinjem tokoh-tokoh Oom Hilman untuk dijadiin proyek saya nulis soal Vladd, Fallin In Love? *ketawa setan*

Anggap saja, ini semacam project yang ingin saya bikin karena ketidakpuasan saya terhadap imajinasi saya (tentang sosok Vladd yang jatuh cinta) tidak tercapai dan serial Oom Hilman nya juga sangat pendek.

Mungkin yang punya selera humor tinggi dan suka tokoh geek begitu, mau ikut bergabung dengan saya juga menulis tentang ini?


 

P.S: Proyek menulis ini murni buat memuaskan hati, tanpa ada niatan mengambil keuntungan. Serius, saya hanya ingin menulis tentang tokoh tersebut tanpa menginginkan keuntungan dan semacamnya!

P.P.S : Kalau Oom Hilman baca, sudilah kiranya anda berkenan bekerja sama dengan saya mewujudkan keinginan ini. (Becanda Oom Hilman, tapi kalau beneran, saya sujud syukur!) 

Kepada Haura

you

Tanpa peduli kau bisa melihatku atau tidak, aku mengikutimu.

Aku tak peduli jika kau punya kehidupan dan menjadi tawanan kegembiraan dunia. Aku hidup terlalu lama, meloncat dari satu tempat ke tempat lain, mencari tempat yang nyaman, dimana aku temukan tempat tersebut di sisimu. Bersamamu.

Jangan salahkan kalau aku hanya ingin menjadi penjagamu.

Maaf kalau aku terlalu lancang. Mengamati tiap gerak-gerikmu. Menjadi pengagum rahasia yang tak pernah kau kenal. Ketertarikanku padamu murni sebagai rasa tertarikku kepada orang yang mengagumi, meski perasaan itu semakin lama semakin berkembang, dan berbuah cinta. Maafkan aku jika aku kurang ajar. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa bersamamu, aku merasa tenang. Sikap tegar dan penerimaanmu pada hidup membuatku mengerti, ada wanita di dunia ini yangtak patut kubenci selain ibu dan adikku, dan itu kau. Padahal sebelumnya, tak pernah ada wanita selain ibu dan adikku yang membuat aku bertekut lutut, betapapun cantiknya mereka.

Dan saat ini, aku malah jatuh hati padamu.

Seperti kata pepatah, witing tresno jalaran soko kulino, begitulah, cintaku padamu persis seperti pepatah itu. Karena sering bertemu, karena sering bersama, meski yang kau tahu, kau selalu sendiri. Sakit memang, mencintai gadis yang tak pernah bisa melihat kita, dan dibandingkan dengan kegalauan para pemuda masa kini yang cintanya tak terbalas, perasaanku luar biasa menyakitkan karena hidup ribuan tahun tapi harus berakhir dengan mencintai gadis yang bahkan tak pernah tahu aku ada. Dalam arti harafiah; kau memang tak bisa melihatku, karena dimensiku yang berbeda denganmu.

Andai kau tahu betapa aku begitu menginginkanmu.

Mungkin jika kau bisa melihatku, kau pasti bertanya, kenapa aku mencintaimu? Aku tak akan menyangkal bahwa kau pasti akan memuji kesempurnaan parasku seperti pujian yang terlontar dari wanita-wanita di bangsaku, dan aku tahu, kau bukanlah gadis yang percaya diri seperti gadis-gadis masa kini. Di abad 21 ini, para gadis seusiamu berlomba-lomba menjadi yang tercantik dan terbaik dalam penampilan, sementara aku sering mendengar keluhanmu terhadap penampilanmu yang tak secantik mereka, tapi tahukah kau bunga musim semi? Aku suka bunga liar di musim semi. Bunga-bunga liar itu selalu tampak cantik dengan kealamiannya, tanpa tahu bahwa dirinya cantik.

Begitulah kau di mataku.

Kau selalu terlihat cantik dengan kealamianmu. Kesederhanaanmu, dan sikap diammu. Kau sudah cantik tanpa harus memolesnya. Kau sudah menawan, meski kau tak pernah tahu dirimu menawan, dan bagiku, gadis seperti kaulah yang kucari selama ini. Kau, yang tak pernah memaksakan diri untuk terlihat sempurna karena kau hanya ingin diterima apa adanya. Kau hanya ingin mereka menerimamu, seperti bagaiman aku menerimamu, meski mereka tak tahu, aku menerimamu jauh lebih tulus dari yang pria bangsamu lakukan kepada kekasihnya. Yang tetap mencintai dan menerimamu, walau kau tak pernah tahu keberadaanku.

Andai suatu saat kau bisa melihatku, aku ingin kau tahu, bahwa aku hanyalah penjagamu, yang selalu ingin bersamamu.

Salam,

F

Vani dan Ruzhael (2)

Cinta adalah anugerah, dan aku tak akan menampik perasaanku. Hanya sakit saja rasanya, kalau aku mencintai gadis yang berasal dari bangsa manusia, sementara aku berasal dari bangsa jin…

unrequited-love

Banyak orang yang mengatakan, bahwa wajah dingin dan sikap apatisku membuat orang takut. Tutor pribadiku di kerajaan dulu bahkan mengatakan bahwa aku tak akan pernah menikah bahkan dengan gadis desa sekalipun jika sikapku terus-terusan begini. Walau sejujurnya, aku tak pernah ambil pusing. Jangankan menikah, bahkan dengan wanita saja aku tak tertarik.

Tapi siapa yang menyangka, kalau akhirnya aku jatuh cinta?

Terlebih lagi, jatuh cinta pada seorang manusia.

Dan gadis itu, kini adalah manusia yang kuanggap sebagai…pemimpin.

Gadis itu bernama Vani. Ia merupakan seorang gadis yang berkemampuan beda, aku tak tahu apa sebutannya, yang jelas, ia bisa melihat kami, bahkan memimpin sebuah pasukan bangsa kami seorang diri. Ia bukanlah gadis kebanyakan, hanya seorang gadis polos yang memang hidup di sebuah keluarga broken home. Aku tak akan menceritakan banyak soal kehidupan pribadinya karena aku juga menghargai privasinya, tapi satu yang harus kau tahu bahwa, gadis inilah, gadis yang membuat aku jatuh cinta.

Bertahun-tahun silam, jauh sebelum aku bertemu dengannya, aku seringkali bermimpi, bercinta dengan seorang gadis bremabut hitam keunguan yang saat itu menjadi misteri. Mimpiku itu terus berulang, dengan orang yang sama, sehingga dalam mimpiku, aku bisa mengenal jelas suaranya, rintihannya, bahkan bisikannya yang membuat bulu romaku berdiri. Saat itu kupikir mimpi itu tak lebih dari keinginan alam bawah sadarku yang tak pernah menyentuh wanita dan menginginkan wanita, sampai suatu ketika, aku bertemu dengannya, mendengar suaranya, akhirnya aku sadar, bahwa gadis itu adalah dirinya.

Pun aku menyukainya, aku tak pernah menunjukkan sikap ketertarikan padanya.

“Ru, kalau kau tak nyaman di belakang, kau bisa naik ke atap,” ucapnya suatu ketika saat aku berdiri di belakang rumahnya.

Aku hanya menedakkan bahu, memandangnya sesaat–untuk beberapa detik–kemudian meloncat ke atap.

Ia mengernyit, mendesah, lalu kembali ke dalam rumah.

Begitulah. Aku tak pernah bisa memandang wajahnya lama-lama. Jangan tanya kenapa, aku hanya malu! Melihat wajahnya sejenak bagiku sudah cukup, tapi jika harus melihat matanya yang bersirobok dengan pandanganku, astaga, cukup sudah, aku tak kuat! Aku harus menahan diri untuk tidak memandangnya lama-lama.

Walaupun diam-diam, aku juga sering mencuri pandang ke arahnya, tapi seringkali, itu tak cukup untuk memenuhi keinginanku.

Jujur, kami adalah bangsa yang memang diberi kekuatan lebih oleh Tuhan, walaupun status kami lebih rendah dari manusia. Aku sadar, kekuatan yang diberikan tuhan kepada kaum kami ini adalah sebuah kelebihan tapi juga ujian–sejauh mana kami bersikap bijak atas kemampuan ini. Selama ribuan tahun hidup di dunia, aku tak pernah bersikap usil atau membahayakan manusia atas kemampuanku –bahkan memasuki mimpi manusia sekalipun –tapi, pertahananku hanya sampai situ.

Pertahananku seolah tak berlaku untuknya.

Berapa kali aku memasuki mimpinya? Tiga, empat, atau lima kali? Entah. Tapi, dalam mimpi yang kumasuki, hampir semuanya mimpi yang gelap. Aku melihat sosoknya menjatuhkan diri ke jurang–dan aku harus menolongnya dengan sosok tubuhku yang lain–seekor naga abu-abu; disisi lain, aku juga masuk ke dalam mimpinya dan menemukan sosoknya menangis sehingga aku hanya bisa mendekapnya; sementara saat ada sebuah mimpi indah, aku melihat sosoknya menyapu, dan aku mendekapnya dari belakang, membisikkannya sesuatu.

“Aku mencintaimu…”

Aku tahu, ini konyol. Aku yang terlahir dari bangsa jin mencintai manusia, tapi, siapa yang bisa mengendalikan hatiku?

Egoiskah aku untuk memasuki alam mimpinya? Mungkin. Kuakui, beberapa kali dalam mimpi pun aku menarik tubuhnya untuk melayaniku nafsuku, tapi itu semata-mata karena aku mencintainya, dan aku benar-benar menginginkannya menjadi milikku.

Tuhan, maafkan aku.

Namun, aku berani bersumpah, dengan jasad aslinya, hal tergila yang pernah kulakukan hanyalah mencium bibirnya dan mengisap beberapa bagian tubuhnya.

Sekali lagi, maafkan aku Tuhan.

“Siapa yang melakukan ini?” tanyanya suatu ketika melihat bekas yang agak lebam pada bagian bawah tulang selangkanya. Sejenak aku terpaku melihat bekas lebam itu, tak menyangka. Sementara itu, kulihat matanya tampak tajam memandang semua makhluk gaib yang menjadi teman sekaligus penjaganya, tapi semuanya saling berpandangan satu sama lain, menggeleng.

Begitu juga aku.

Walaupun sebenarnya, akulah yang melakukannya.

Biarlah itu menjadi rahasiaku.

Karena aku hanya terlalu mencintaimu, Vani.

“Sampai kapan kamu akan menyembunyikan perasaanmu?” tanya Auron suatu ketika. Auron adalah salah satu jin yang sudah bersama dengan Vani sejak ia bayi dan sudah kuanggap ayahku sendiri.

“Maksud abi?” tanyaku lagi. Aku memang memanggilnya dengan sebutan abi, mengingat ia cukup familiar dengan bahasa arab karena berasal dari Mesir, sementara aku juga pernah tinggal di Mesir selama beberapa tahun.

“Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu, kau menyukai Vani.”

Tiba-tiba aku merasa tersedak ludahku sendiri.

“Darimana abi tahu?”

Pria berambut panjang yang selalu bersikap kebapakan itu hanya tersenyum tipis sembari tetap memejamkan matanya. Saat itu ia memang sedang bermeditasi.

“Tatapanmu pada Vani.”

Tatapanku? Memangnya apa yang ia lihat dari tatapanku? Kupandang Auron dengan wajah bingung.

“Memangnya kenapa dengan tatapanku?”

“Kau pikir aku tak pernah jatuh cinta? Aku tahu kau mencintainya, Ru.”

Lagi-lagi aku ternganga, merasa ditohok. Aku terdiam sejenak, mendudukkan tubuhku di sebelahnya sembari menghela nafas panjang, memandang lurus ke arah halaman.

“Aku tak tahu kapan aku akan mengatakannya.”

“Jadi kau akan selamanya memendam perasaan tersebut?”

“Mungkin.”

“Sampai ia meninggal? Ingat, usia manusia jauh lebih pendek dari kita.”

“Kurasa begitu.”

Sejenak kami terdiam dalam keheningan. Angin sepoi berhembus menerbangkan rambut panjang kami.

Abi, jangan beritahu ini pada siapapun.”

“Kau bisa percaya padaku soal itu, pangeran kecilku,” Auron tersenyum tipis.

Abi, aku sudah cukup tua untuk dipanggil dengan sebutan ‘pangeran kecil’!”

Begitulah.

Percakapan itu sudah cukup lama. Sekitar tiga tahun lalu. Dan perasaan cintaku tetap tumbuh meski sikapku pada Vani tak pernah berubah–selalu dingin dan apatis. Aku tahu, mungkin hingga saat ini Vani merasa aku tampak seolah membencinya, tapi aku tak bisa bersikap baik padanya karena aku khawatir, jika ia bersikap baik padaku, aku takut aku yang malah akan tersakiti karena aku sadar, kebaikannya hanyalah racun yang malah membunuhku karena itu akan membuatku semakin sulit melepaskannya. Perbedaan jenis diantara kami membuatku sadar, aku tak seharusnya bersikap lebih jauh, dan hanya inilah yang bisa kulakukan. Aku tak bisa memilikinya, dan itu karena kami terlahir dari bangsa yang berbeda. Aku bukanlah jin pria yang kurang ajar dan memaksakan kehendakku untuk mengambilnya menjadi milikku sebagai kepuasan di ranjang, tapi aku ingin memilikinya secara utuh.

Kurasa saat ini, jika aku mendapat sebuah kesempatan untuk meminta sebuah permohonan, aku akan memohon untuk menjadi manusia, dan menikahinya.

Namun kukira, hal itu tak mungkin terjadi.

Cinta Tak Semanis Kata Mereka (1)

Broken_heart_love_12

 

Kata mama, aku harus mendapatkan seorang jodoh yang mapan dan baik. Karena kita hidup bukan makan cinta, melainkan makan nasi, dan nasi bisa dibeli dengan uang. Ideologi itu memang betul, tapi untuk seorang gadis polos seperti aku, aku benar-benar menerima ideologi mama dengan mentah-mentah, sehingga saat itu, orientasiku hanyalah uang, uang, dan uang, dan cinta adalah poin ke dua setelah cinta. Pandangan demikian membuatku terpaku pada satu titik dimana…aku harus mendapat orang kaya. Aku tak begitu menghiraukan perasaan cintaku terhadap pria tersebut, tapi selama ia kaya, akan kudekati dirinya. BBM, Facebook, bahkan Twitter, seolah semua itu menjadi media dimana aku bisa menjerat mereka.

Saat itu, pertama kali, aku mengenal Hamid, lewat sebuah aplikasi chat dan dari sana, kami saling mengenal. Ia berasal dari Bandung, berusia 31 tahun. Kami banyak bertukar pembicaraan sampai akhirnya aku tahu bahwa ia bukanlah pria yang bisa kusepelekan. Ia merupakan seorang pebisnis dengan rumah disana-sini, yang kutahu kemudian, ia adalah pria kalangan menengah ke atas. Kami bertukar foto seperti biasa, dan seketika aku tahu, dia memang bukanlah pria tampan. Tubuhnya cenderung pendek dan bermuka tua, namun sekali lagi, hal itu kukesampingkan, selama dia kaya. Toh, selama pria tersebut beruang, penampilan itu bukan masalah kan?

Tololnya, saat itu aku benar-benar gadis naif yang hanya memikirkan harta di atas segalanya.

Perkenalanku dengannya berjalan hampir tiga bulan. Selama tiga bulan kami saling berkomunikasi lewat chat, bisa kuasumsikan bahwa pria ini cukup baik. Meski terkadang meminta foto topless (aku bukan orang yang buta dengan kehidupan seks di dunia maya, jadi hal seperti itu sudah kuanggap wajar) tapi dengan mengenyampingkan hal itu, kuanggap dirinya cukup baik dalam memperlakukanku. Disamping perhatian dan ramah, tampaknya ia juga berniat untuk menjalin sebuah hubungan yang serius denganku. Seperti yang kuharapkan.

Sampai suatu ketika, ia memintaku bertemu dengannya, secara langsung, di sebuah kota di Jawa Tengah tempat dimana aku mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa tingkat 1.

Saat itu, aku baru saja 17 tahun.

***

Langit masih gelap, dan hujan rintik masih mengisi suasana sore itu. Aku berada di dalam kamar kostan, sibuk memilih baju karena hari ini, aku akan bertemu dengan Hamid. Terakhir kali kukontak, ia akan sampai di terminal sejam lagi. Tentu saja aku yang tak mau terlambat menjemputnya segera bergegas mempersiapkan diri. Walaupun sebelumnya sempat bingung, akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah celana jeans hitam, tank top hitam dan kemeja abu-abu. Rambut berombakku sengaja kukucir kuda, dan karena aku tahu bahwa kami akan menginap di hotel, aku membawa beberapa hela baju dalam backpack hitamku, dan tak lupa juga sebuah payung karena memang masih hujan.

Saat itu, jam menunjukkan pukul 16.30. Dengan sebuah minibus, aku berangkat menuju terminal untuk menjemputnya, maklumlah, aku tak bisa naik motor.

Sampai di terminal, aku mengeluarkan ponselku dan menghubunginya.

“Mas, kamu dimana?” tanyaku sambil celingukan di terminal.

“Aku di deket toilet, di sekitar angkot-angkot itu lho…”

Telpeon diputus. Aku tahu daerah yang ia maksud. Dengan langkah cepat (sebenarnya langkahku memang lumayan cepat untuk ukuran perempuan), aku berjalan ke lokasi tersebut, dan disana kulihat seorang pria dengan tubuh sekitar 160-an melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum tipis dan berjalan ke arahnya.

“Udah lama nunggu?”

“Nggak juga sih,” katanya sembari menggeleng.

Aku memandangnya dengan sedikit salah tingkah. Kenapa matanya begitu lapar memandangku. Oke, aku tahu tubuhku memang cukup bagus, tapi diperhatikan dengan pandangan seperti itu, aku risih juga.

“Eh, jadi…kemana nih kita?”

“Ke daerah yang kita omongin  di chat itu gimana?”

“Oh, oke…” aku mengangguk. Yang ia maksud sebenarnya adalah sebuah lokasi wisata yang terkenal dingin dan sepi di kota ini. Selain memang daerah wisata yang menyediakan banyak hotel murah, disaat-saat normal seperti ini, bermalam disana memang sangat aman. Setelah memanggil taksi, kami berdua masuk dan mobil pun mulai berjalan. Tentu saja, semuanya, dia yang bayar.

Sepanjang jalan, aku tak banyak bicara. Selain bingung apa yang mau dibicarakan, Hamid memang tipikal pria pendiam. Bahkan hingga kami sampai di hotel, kami memilih diam.

“Kamu duluan aja,” katanya saat aku masih celingukan di sebuah lobi hotel kelas menengah, “kamar 37.”

“Oh, iya,” aku mengangguk, dan seorang billboy mengantarku menuju kamar bernomor 37. Tak butuh waktu 5 menit, aku mendengar pintu kamarku dibuka, dan kulihat mas Hamid masuk. Setelah meletakkan tas punggungnya, aku tersenyum melihatnya duduk di sebelahku.

“Kamu laper ga? Aku bawa makanan,” tanyanya padaku.

Aku mengangguk, “lumayan sih.”

Ia mengeluarkan seplastik makanan dari tasnya dan aku melongo. Baik makanan maupun minuman, semuanya ada. Aku kaget.

“Kamu kayak mau piknik aja, mas,” ucapku sembari berdecak.

“Lebih baik sedia payung sebelum hujan,” ucapnya pendek

“Iya sih, tapi makannya ntar aja deh,” kataku sembari meletakkan plastik itu di sebuah meja kecil di seberang kasur kami, sebuah single bed yang nyaman.

Ia hanya mengangguk kecil.

Perlahan, aku melepas kemejaku, menyisakan sebuah tank top hitam, dan aku menyambar gelas untuk minum. Saat aku meminum air putih,  bertepatan dengan itu, aku merasakan sebuah tangan besar merengkuh pinggangku dan hembusan hangat di leherku. Aku berbalik cepat, dan kurasakan roma mint dan bercampur rokok menyeruak di hidungku seketika.

Ia melumat bibirku.

Jujur, aku ingin memberontak. Tapi naluriku yang lain memaksaku untuk tetap diam. Bahkan lututku lemas saat ia meraba beberapa bagian tubuhku yang sensitif. Aku bisa merasakan tubuhku dihempaskan ke ranjang dan ia mencumbuku semakin dalam. Sampai akhirnya lumatan itu terlepas, aku hanya bisa membeku ketika ia memandang wajahku.

“Err…mas…”

“Hm?”

“Kenapa jadi…tiba-tiba begini?”

Ia hanya tertawa kecil dan menyelipkan tangannya di balik kaus tank topku. Aku bingung dengan pipi memanas, tapi memilih diam. Dan malam itu diiringi desahan berkepanjangan, berakhir dengan peluh. Kami berdua tertidur dalam posisi tak ditutupi sehelai benang pun.

***

Hari terakhir kami berada di hotel, aku kehilangan dompet saat aku akan check out. Hamid juga membantuku mencari dompet coklatku, tapi nihil, aku tak menemukannya.

“Memang isinya berapa?”

“Lumayan besar sih…” kataku sembari garuk-garuk kepala. Jujur saja, meski aku berorientasi pada Hamid sebagai pria beruang yang kuharapkan menjadi suamiku saat itu, meminta uang padanya tak mungkin kulakukan. Aku bukanlah tipikal orang yang mudah meminta, terlebih lagi pada pria yang kusayangi. Aku tak akan muluk mengatakan cinta padanya, tapi ia sudah kuanggap spesial untukku.

“Berapa?”

“Se-seratus limapuluh ribu,” jawabku bingung sembari mengambil nafas panjang.

Tanpa kuduga, ia mengeluarkan dompet hitamnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang limapuluh ribuan dan meletakkannya di kasur, tepat disebelahku mendudukkan diri di pinggir ranjang. Aku mengernyit.

“Apa ini?”

“Anggap aja buat ngganti uang kamu yang ilang, sayang,” katanya lembut.

“Tapi….” aku bingung melihat uang yang setelah kuhitung ada 10 lembar itu, “ini sih kebanyakan.”

“Nggak papa, ambil aja Ra,” katanya. “Buat jajan kamu ntar di kostan.”

“Eh beneran nih?” tanyaku dengan wajah penuh tanda tanya.

Ia mengangguk. Aku tersenyum senang dan memasukkannya ke saku celanaku selembar, sisanya kumasukkan ke dalam kantung kecil dalam tas hitamku. Dikasih uang secara cuma-cuma, siapa sih yang tak senang?

***

Dua hari semalam berada di hotel membuatku lupa, kalau saat itu ponselku tidak mendapat jaringan dan saat aku kembali mendapat jaringan, aku mendapat puluhan sms dari orang tua dan chat dari teman-teman yang mencariku. Aku khawatir sekaligus takut kalau hal tersebut akan ketahuan sehingga aku beralasan pada temanku saat aku kembali kuliah bahwa aku menginap di rumah saudaraku dan tidak mendapat jaringan selama beberapa hari, meski kukatakan pada ibuku bahwa aku sibuk menyiapkan bakti sosial di sebuah daerah yang tidak memiliki jaringan, dan keduanya dengan mudahnya percaya. Hal tersebut terpaksa aku lakukan, sebab aku pasti dibantai habis-habisan kalau keduanya tahu aku menghilang demi bertemu kekasihku.

Tapi beberapa hari kemudian, rasanya semua itu percuma.

Hamid mulai jarang menghubungiku. Saat kukontak BBM-nya, tak pernah dibaca. Kutelpon dan ku-SMS pun, nihil. Hingga hari ke enam setelah pertemuan kami, ia tak juga memberi kabar. Aku kembali mengirim pesan padanya.

Mas, kok kamu sekarang srg ngilang? Kmu kmn?

Sampai seharian aku menunggu balasan SMS tersebut, tetap nihil. Namun, aku tak mau menyerah dan berpikir positif. Mungkin ia sibuk, mungkin ia capek mengurusi bisnisnya dan tertidur…serta sejuta pemikiran baikku padanya karena aku bukanlah gadis yang suka berburuk sangka pada orang. Aku tetap mengiriminya pesan.

Mas, klo kmu baca SMS ini, tlg tlp/kbri aku ya. Ak khawatir sm kmu.

Terkirim.

Seminggu berlalu.

Dan Hamid kini tak pernah memberiku kabar sama sekali.

Pikiran negatif mulai menghinggapi pikiranku. Kemana dia pergi? Apakah dia tak menyayangiku lagi? Sebenarnya ia anggap aku ini apa? Kekasihnyakah? Aku menganggap dirinya kekasihku, tapi bagaimana ia terhadap aku? Apakah ia juga mencintaiku?

Dan pemikiran itu semakin diperburuk saat aku teringat dengan perilakunya yang memberiku uang di hotel saat dompetku hilang. Apakah ia menganggapku….tidak-tidak. Kugelengkan kepalaku keras-keras. Ia bukanlah pria seperti itu. Meski disatu sisi aku mulai berpikiran negatif, perasaanku mengatakan bahwa ia bukanlah pria kurang ajar seperti apa yang kupikirkan. Betapapun semua pikiran negatif sudah merasup, hatiku tetap teguh dan berasumsi positif padanya.

Sampai suatu ketika, sekitar sebulan setelah pertemuanku dengannya, dan seperti biasa –aku mengiriminya pesan sebagai wujud perhatianku padanya, aku mendapat telpon darinya. Saat membaca kontaknya, entah ada perasaan meletup letup penuh kebahagiaan ketika orang yang kunantikan akhirnya menghubungiku juga.

“Halo, mas…” sapaku pelan.

“Ada apa?” tanyanya dengan nada datar dan dingin. Jujur, aku agak kaget dengan nadanya yang terdengar lain, karena biasanya ia sangat baik dan lembut saat bicara denganku.

“A-aku…” lidahku terasa berat.

“Ngomong cepetan….”

Dadaku terasa sesak saat ucapannya seolah acuh pada sikapku yang mengkhawatirkannya. Ya Allah, kemana Hamid yang baik hati dan kukenal sebagai pria lembut itu?

“A-apa mas sehat-sehat aja?” akhirnya kuberanikan bertanya padanya.

“Sehat. Napa?”

“Kok gaya ngomongmu gitu sih mas?”

“Abis kamu ganggu terus, nanya-nanya. Kamu ada perlu apa sih?”

“Lho, emang aku salah kalau aku nanyai keadaan pacarku? Kamu ngilang dan mulai jarang kasih aku kabar semenjak kita ketemuan, tau gak?” nadaku mulai meninggi.

“Pacar? Kamu itu lucu ya. Emang aku pernah bilang kalo aku cinta sama kamu? Enggak kan?”

Aku merasa ada petir menyambar siang itu. Apa maksud dari semua ini?

“M-maksud kamu apa mas?”

“Jujur ya Ra, kamu itu mulai ganggu. Tiap hari SMS…mulu, nanyai aku ada dimana, lagi apa? Mau kamu apa lagi? Kita udah ketemuan dan aku udah bayar kamu, selesai! Kamu ngarep apa dari aku, hah?”

Tanpa sadar, tanganku terkepal, dan gigiku gemeretuk, “maksud kamu, aku cewek bookingan gitu? Bisa pake?”

“Lha, iya kan? Orang kemarin aku main sama kamu aja kamu udah nggak perawan lagi, iya kan? Dan lagi pula, kamu sepertinya nggak lugu seperti yang aku kira.”

Deg.

Harapanku padanya pupus sudah. Kumatikan telpon darinya, dan aku menangis. Meraung di kamar kostanku. Jadi selama ini, ia hanya menganggapku sebagai wanita pemuas seksnya, begitu? Aku tersenyum getir disela tangisku. Pantas saja ia tak segan memberiku setengah juta. Rupanya itu ia anggap upah atas apa yang sudah kulakukan padanya. Aku menangis keras, tak peduli akan keadaan sekitar. Aku menelungkupkan wajahku di bantal, berharap bahwa hanya dengan tangis, aku bisa meredakan hatiku yang sudah berkecamuk dan anarkis untuk membanting semua benda.

Dan semenjak itu aku paham, bahwa cinta itu…tak lebih dari sekedar dongeng sebelum tidur.

4 Desember 2012

***

Sumber gambar:bestprofilepicture.blogspot.com

Kemana Lagi Kau?

puisi kesepian

Kemana lagi kau? Tangismu ditelan sunyi malam. Sementara mata-mata yang melihat itu tak bisa menyapamu untuk jadi pelipur lara. Kau  tak punya tempat mengadu. Dan selanjutnya kau menangis hanya untuk menghilangkan rasa sesak di dada. Rasa sesak yang kerap kali mengisi hidupmu yang monokrom

Iya, kau memang egois. Kau tak punya siapa-siapa untuk menerimamu kecuali mereka. Mereka yang mengaku ada. Bukan mereka yang di kanan, mengatakan mereka paham tapi sebenarnya tidak. Atau disebelah kiri yang biasanya mengoreksi lalu melengos begitu saja. Keduanya tak pernah bertanya ‘apakah kau bahagia’?

Atau kau yang memang salah? Kau tak pernah bilang perasaan sebenarnya karena dua hal : 1) Kau takut dihakimi atas perasaanmu yang ada saat ini jika kau jujur ; 2) Kau dihakimi atas kesalahan yang kau lakukan dan mereka mengungkit masa lalu yang membuat kau semakin sadar bahwa semua itu adalah sepenuhnya salahmu. Keduanya, ingin kau tolak, ingin kau tentang. Kenapa? Hanya kau yang tahu, kau takut dihakimi.

Kau tak mau bilang tentang kelemahan dirimu, karena kau takut kelemahanmu diungkit dan dicari akar penyebabnya, dan memberi solusi yang mana kau ingin muntah mendengarnya. Kau ingin memberontak dan membanting kondisi, memulai hal yang baru, tapi mereka pasti bertanya, ada apa denganmu, sementara kau sendiri tak mau menjawab, tak bisa menjawab. Aku paham, kau malu, kau terlalu lelah, dan kau terlalu egois untuk mengakui bahwa kau sudah salah langkah.

Yang kau tahu, kau ingin langkah awal. Langkah dimana kau bisa berusaha tetap tenang, karena kau merasa, kau tak cocok dengan duniamu. Kau ingin pergi. Kau ingin melarikan diri, berkenalan dengan orang-orang baru, dan membuka lembaran awal dalam hidupmu.

Kau hanya ingin itu.

Tapi kau tak bisa.

Ingin bicara, tapi mulut terkunci.

Yah, andai Kau tahu, bahwa ‘Kau’, adalah Aku.

Dan saat tahu senyum-senyum serta cengengesan tanpa dosa itu adalah teknologi mutakhir buatan untuk menyembunyikan kenyataan.

Semuanya akan berbeda, kau dan aku mengerti, kenapa aku benci kerumunan.

Blater, 24 September 2014

Gambar diambil dari : catatanceritaakudankamu.blogspot.com